TEMANGGUNG – Peringatan Hari Kartini sering identik dengan parade busana daerah. Kemarin (21/4), TK Masehi Temanggung juga menggelar lomba peragaan busana daerah di Gedung Mawar Sharon Temanggung. Ratusan siswa tampak lucu dengan segala tingkah polahnya membuat peringatan Hari Kartini ini menjadi meriah.
Ada yang saling mengomentari busana temannya, mengusili teman atau malu-malu di dekat orangtuanya. Saat berada di atas panggung pun, beragam tingkah lucu juga muncul. Sebagai peragawan dan peragawati dadakan, sebagian besar peserta tampak canggung dan bingung ketika harus bergaya. Bahkan ada yang tampak kebingungan dan berputar-putar di panggung. Ketika turun panggung, ada pula yang minta segera ganti busana karena kepanasan.
Meski demikian, sebagian besar peserta tampak gembira dengan kegiatan ini. Anak-anak ini bangga dengan busana nusantara yang dikenakannya. “Kata mama dan papa aku mirip orang Bali. Jadi mama dan papa nyuruh aku pakai baju Bali,” tutur Michael Jazz Arubusman, 4, salah seorang peserta lomba yang ikut berkompetisi memperebutkan kejuaraan peragaan busana tersebut.
Di Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Utama (STAINU) Temanggung, peringatan Hari Kartini ditandai dengan audisi pemilihan putri Kartini. Para peserta diminta memaparkan pendapatnya tentang emansipasi perempuan. “Perempuan harus kuat, harus bisa mandiri dan jangan mau ditindas oleh pria,” teriak Suni Fauziyati, salah seorang mahasiswi yang menjadi peserta.
Menurutnya, perempuan harus kuat dan mampu bersaing dengan pria, sehingga tidak hanya menjadi konco wingking saja. Tetapi dapat menjadi pemimpin rumah tangga mendampingi suami.
“Kita masih menunggu lahirnya Kartini-Kartini baru,” imbuh Raudlatul Jannah, peserta audisi Kartini lainnya.
Menurut Raudlatul Jannah, perempuan saat ini harus berani bangkit untuk memerdekakan dirinya. Setidaknya mampu untuk mencerdaskan dirinya sendiri dan anak-anaknya. Dikotomi seputar pria dan perempuan harus dihapuskan karena cenderung bersifat bias dan sifat dominatif pria terhadap wanita.
Peringatan lainnya dilakukan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Temanggung di Graha Bhumi Phala. Peringatan ini dihadiri oleh istri jaksa agung, Sri Kusumo Hendarman Supanji, bupati dan segenap Muspida, Dandim 0706 Temanggung, Letkol (Kav) Asep Ridwan, Kajati Jateng Salman Maryadi, istri sejumlah pejabat serta aktivis pendamping perempuan.
Dalam kesempatan tersebut, kedatangan Sri Kusumo Hendarman Supanji memberikan inspirasi panjang untuk hadirin. Datang dari Jakarta menggunakan tongkat untuk membantu kedua kakinya menapak, wanita yang telah cukup umur tersebut masih kuat untuk membangkitkan semangat kaum hawa. “Wanita itu harus kuat dan tegar menghadapi semua persoalan,” ujarnya. (Abaz/Jawa Pos)